Putin Siap Serang Eropa, Ini Syaratnya

Putin Siap Serang Eropa, Ini Syaratnya

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan bahwa Moskow tidak memiliki niat untuk meluncurkan serangan terhadap negara-negara anggota Uni Eropa maupun NATO.

Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap narasi Barat yang terus mendorong peningkatan belanja militer dengan dalih mempertahankan sayap timur dari potensi agresi Rusia di masa depan.

Dalam sebuah wawancara televisi, Lavrov menjelaskan bahwa tuduhan yang menyebut Rusia akan mengekspansi peperangan ke wilayah Eropa adalah hal yang tidak berdasar. Ia menyatakan bahwa fokus Rusia saat ini tidak mencakup rencana invasi ke negara-negara tetangga di kawasan tersebut.

"Kami tidak punya niat untuk menyerang Eropa. Tidak ada alasan untuk melakukan hal itu," kata Lavrov dalam wawancaranya dengan NTV yang ditayangkan pada Minggu (8/2/2026).

Namun, Lavrov memberikan peringatan keras kepada negara-negara Barat yang terus menyuarakan kesiapan perang, termasuk pernyataan militer Jerman yang menargetkan kesiapan tempur pada 2029.

Ia menegaskan bahwa Rusia akan menggunakan seluruh kekuatan militernya jika pihak Barat berani memulai agresi fisik terlebih dahulu ke wilayah kedaulatan mereka.

"Jika Eropa bertindak berdasarkan ancaman mereka untuk bersiap perang melawan kami dan memulai serangan terhadap Federasi Rusia, mereka akan menghadapi respons militer penuh dari pihak kami, dengan semua kapabilitas militer yang tersedia," ujar Lavrov.

Di sisi lain, perang yang masih berlangsung di Ukraina terus memicu polemik, terutama terkait transparansi jumlah korban jiwa di medan tempur. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky baru-baru ini merilis angka resmi korban tewas dari pihak militer yang memicu keraguan di kalangan pengamat internasional karena dianggap terlalu rendah.

Angka yang disampaikan Zelensky dinilai kontradiktif dengan skala pertempuran yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, Rusia menuding Uni Eropa terus menghambat jalur diplomasi yang diupayakan Amerika Serikat demi memperpanjang durasi konflik tersebut.

"Di Ukraina, secara resmi jumlah tentara yang gugur di medan perang, baik profesional maupun mereka yang wajib militer, adalah 55.000 orang," ujar Zelensky dalam sesi wawancaranya.

Meski angka tersebut telah diklaim secara resmi, data lapangan menunjukkan situasi yang lebih pelik, terutama dengan banyaknya personel yang masih dinyatakan hilang.

Adapun di tengah ketidakpastian ini, negara-negara Barat terus mengucurkan bantuan militer senilai miliaran dolar.

Sumber: www.cnbcindonesia.com

Lihat artikel asli di sumber pemberitaan